Monday, July 14, 2014

Ihiiy, akhirnya. Setelah cukup lama ngga ada di titik itu, beberapa hari yang lalu, sampai juga disana.
Rasanya.. Capek, lelah, tapi apa yang sedang dipertanyakan belum sempet terjawab,

masih jadi tanda tanya besar.

Bingung sih, apa yang harus dipertanyakan lagi? Konsepnya pun, ngga pernah ada.
.
.
.

"Harus gimana? Harus menjadi seperti apa? Harus mulai darimana? Atau, harus diakhiri dimana?"

Mungkin itu..itu yang selama ini mengganggu.  Pertanyaan-pertanyaan seperti itu yang menggagalkan. Iya kan?

Maaf buat yang merasa risih 3 bulan terakhir. Disini, tidak pernah bermaksud mengganggu, kok. 
Maaf buat yang tiba-tiba dijadiin sumber semangat. Padahal, seharusnya, tidak.
Maaf buat anggapan berlebihan dari yang disini.
Maaf buat reaksi yang super aneh dan ngga etis sama sekali dari yang disini.
Maaf buat yang tiba-tiba dijadiin alasan buat selalu ngerasa ngga cukup sama diri sendiri. 
Maaf karena belum tahu harus mulai dari mana dan kapan waktu yang tepatnya.
Maaf karena belum tahu bagaimana caranya berjuang dengan netral, bagaimana caranya bertahan, bagaimana caranya merelakan.
Maaf karena belum bisa mengerti, dan bicara. Maaf karena udah berasumsi terlalu banyak.
Maaf karena udah sejauh ini, walaupun sendirian tapi sejauh ini, inilah yang bener-bener serba pertama kalinya buat gue. Berkesan, dan makasih udah bikin SMA gue yang semula pernah menjadi sesuatu yang monochrome, jadi se-pelangi ini!
Maaf karena udah terlalu punya prestise yang tinggi terhadap lo, it's frankly because you're beyond my kind of unique
Dan oiya...,

Maaf buat yang tiba-tiba di-asik-in eh sekarang jadi di-buang-muka-in sama yang nulis ini.. Bener-bener ngga tahu cara lain, buat berhenti. Selain kayak gini. 

"You can't fight the tears that ain't coming,
  or the moment of truth in your lies,
  when everything feels like the movies,
  you'd bleed just to know you're alive."
  Iris- The Goo Goo Dolls.

Tuesday, July 1, 2014

Fantasi alur hidup

Barusan aja, abis ngelempar pertanyaan random ke temen-temen di ask.fm,
gue nanya ke mereka: pasti kalian punya fantasi/mimpi sendiri kan, nah ceritain dong kira-kira kalo boleh bikin alur cerita hidup kalian sendiri, pengennya hidup kalian kaya gimana dari awal lahir sampe dimasa depan nanti?
-

Dan jawabannya pada bikin kagum! Ternyata mereka punya mimpi yang tinggi-tinggi banget dan somehow diluar logika. Ada yang bilang kepengen punya kakak (karena dia tunggal), kepengen punya orangtua yang hidupnya pindah-pindah, kepengen lahir dan tinggal di luar negeri, ada yang kepengen ngebangun rumah sakit sosial masyarakat, kepengen ganti nama, kepengen bisa makan cake sebanyak-banyaknya pas jadi orang sukses nanti, sampe ada yang bilang kalo mereka ngga kepengen hidup sekalian. What da bombzz. Tapi namanya juga fantasi, rada liar kaya yang terakhir juga boleh kok.

-
Nah kalo gue yang ditanya balik pertanyaan di atas itu, gue bakal jawab dengan sistem poin aja yah jadi gini:
•Gue pengen lahir dengan nama Rizky Defira Mustika Dearananda
•gue pengen lahir dengan mata warna hijau yang cuma dimiliki sama minoritas di dunia
•Gue ngga pengen lahir dari keluarga yang beda, gue pengen tetep sama yang gue punya sekarang. TAPI gue pengen ada kesempatan tinggal di luar negeri kaya Australia (di wilayah mana aja, asal jangan Sydney), atau di New Zealand, atau Jepang atau di daerah Venesia Italia. Dan kalo buat di dalem negeri, gue pengen tinggal di Bandung atau Malang.
•Gue pengen dulu tk-nya nerusin aja di Tk Akbar Bogor.
•Gue pengen punya struktur wajah yang oval dengan dagu yang panjang, dan hidung yang (tolong) sedikit lebih mancung dari yang ini wkwk
•gue pengen punya catatan atau rekaman cerita kehidupan gue dari gue bayi sampe nanti gue game over di dunia.
•Gue pengen sekali aja bisa ngelakuin hal heroik macem di film-film.
•Gue pengen di dunia ini ngga ada yang namanya istilah "judgemental" supaya ngga ada orang yang ngerasa punya mental yang suka menilai oranglain sesuka hati mereka
•Gue pengen ikan salmon hidup selamanya, dan berkembang biak sebanyak-banyaknya, gue pengen punya ternak ikan salmon, karena gue cinta mati sama ikan salmon.
•Gue pengen punya rumah kaya yang di film Richie Rich dengan kolam renang ditengah rumah (atap rumahnya yg bisa buka tutup bentuk setengah lingkaran kubah)
•Kalo bisa ngulang, dulu gue pengen join les bta (baca tulis al-quran) dari umur 4.
•Gue pengen kerja di gedung perkantoran di awal masa karir gue, kalo udah dirasa cukup sibuk-sibukannya, gue mau buka praktek aja dirumah dan ikut praktek di rumah sakit-rumah sakit.
•gue juga pengen bisa nulis buku, seengganya 1 buku aja
•pengen ngebangun panti-panti sosial dan organisasi sosial
•Kalo gue udah bisa beli/bangun rumah sendiri, gue mau di halaman rumahnya ditanemin sama bunga matahari dan tulip. Ngga lupa juga, gue mau tanemin sama pohon manggis!! gue cinta banget sama manggis.
•Karena kecintaan gue sama manggis, gue pengen ada someone yang ngebuat alat pembuka manggis otomatis dan alat buat ngeluarin isi buah manggisnya dengan otomatis. Semoga nanti ada seorang jenius dan kreatif ngebaca tulisan ini aamiin.
•Gue pengen masa tua gue nanti gue abisin di rumah sederhana deket danau yang penuh dengan angsa kaya di film The Notebook.
• Dan yang paling penting, gue pengen banget jadi orang yang dikenang suatu saat nanti. Buat gue, bisa dikenang sama orang-orang sekitar gue yang pernah dan emang kenal gue itu udah lebih dari cukup. Walaupun ini semacem ngga mungkin, tapi sekarang gue lagi nyoba buat ngelakuin hal-hal baik yang gue harap bisa jadi investasi gue dimasa yang bakal dateng huhu cheesy banget ya hahaha

udah sih itu aja.
the end.


Monday, June 30, 2014

Problems of being a tall girl

23 hours ago I just got a question on my ask.fm, he asked me this:
                        Hal apa yang bisa bener-bener bikin kamu sakit hati? Kenapa?


I
I
What things can hurt you the most? Why?

and suddenly, my bad memories came up. I remember all those scarify utterances on me that once they said back time. But what I remember the most yesterday was, the sentence they said which underestimate my appearance and how do I look. It totally not to speak of. 

To be honest, I still can't deny that everytime this thing comes up, I find myself gets awkward and stiff. And deep down inside, I feel like I'm going to hate my self since then. It happens when some fellows call me the big/tall one, and they talked about their statements which are so mean like:
"you're a girl but why do you have a super tall height? Are you gigantic?" 
"You're not a girl, you fit to boys' height lol" 
"I want your body, also your height. I'm too short and I hate it. But, I mean, I just want a little taller than this, not as tall as you are."
"Cut me off some of your height."
"Seriously, why do you have to be so big? I can't resist it that I think you're weird."

When the fact says that I'm only 173-174 cm. And I'm not that fat. It's still normal. I know and I'm so sure I'm normal but all your statements still give me idea to think that I ain't normal and this is all so wrong. I shouldn't have 173-174cm as my height, what you're tryin' to say is I should be on 167-171cm only. 

And this time, I'm going to tell you what problems that tall girls going to face because I already know what advantage I have for being a tall girl. So sit down, and read this carefully because I'm trying to be honest to myself now. Here they are:

1. Off-handed comments.
Either it will boost your confidences or it will break it down, two or three off-handed comments will always you receive since you're a tall girl. You're always getting attention, anywhere and almost everywhere. Like when you meet a stranger in public, suddenly they will say "Look at you! You're really tall! Whatta height for a girl wow." For me, some comments like that will make me uncomfortable I don't know why even if it's a compliment, but it sounds like he assumes that I don't like the other, which is weird for my ears. 

2. No heels just flatshoes.
Can you imagine how tall I look if I wear high heels? It's not a catwalks that will make me look like a supermodel, it is society so I will look like a tree if I am tall and still wear any heels. So, don't.

3. You're older than you're age.
Adults automatically assumed you were older, which caused you to grow up a little faster. In my case, I always being asked If I am a freshman or not and what semiannual am I in. So bored of answering them. Again and again they ask me the same question.

4. Always try to fit yourself in society.
Maybe it's kinda freak, but it's hard for me to fit myself in society just to look normal. Once again, I feel like a tree whenever I'm around my friends. You'll have no idea if you don't experience this by yourself.

5. People think you're good in play basketball or other sports when you don't even like sports. And people start to think that you're not talented, you're a lazy girl.

6. Your long legs are aching when you seat down for long times (esp. when you seat in the backseat).

7. Admit it, you look like a tree (again) when you take pictures with the rest of your friend who are shorter than you unless you bend down just to look the same with them. 

8. You hate it but you have to be honest that, you're taller than any other guys around you. And it effects your love life, like it or not. And there's a little disappointment in your heart, when tall guys pick shorts girl to date with them when you are there, right in front of his face.  








resources:
thoughtcatalog.com
http://tall-girl-problems.tumblr.com/

Saturday, June 28, 2014

#2

Kita terlalu sibuk merasionalkan hal-hal yang irasional, dan ini membuat kita terlihat semakin bodoh di mata benda mati.
Kenapa mengetuk lagi, ketika tuan rumah sudah siap pergi? Menganggu. Dasar tidak sopan.
Cukup di 23 Juli 2013, kenapa harus terjadi lagi di 23 Mei 2014? Hm, kasai badan, baju hangat, topi, tas, keripik.

Monday, May 12, 2014

May may may

May is coming, udah nyampe dipertengahan bulan. Smansa makin hectic, banyak orang mondar-mandir dengan alasan lagi nyari si A atau si B buat ngomongin acara blablabla. Dan alhamdulillahnya acara yang gue urus udah beres satu! Yay seneng banget! huhu serius deh, gue masih ngga habis pikir dari Januari udah staffing dsb akhirnya kelar juga hari Minggu kemarin. Lega, tapi tbh gue ngga dapet euphoria yang bener-bener gereget. hehe. Entah karena gue ngga memberi lebih untuk mereka atau kenapa, tapi gue ngga puas aja sama acara ini. Sorry about that, salahnya ada dalam diri gue sih sebenernya.
.
.
.
Gue juga punya cerita baru, tentang satu orang yang bikin hari-hari gue semangat mulu hahahaha geli kah? Iya, gue juga geli kok tapi gue ngga bisa boong that these butterflies give me more energy nowadays. Kenapa musti se-nasgor itu sih? Aneh, padahal beliau ngga ngelakuin apa-apa yang out of the box. Just like the rest of other guys, tapi gue bisa liat kalo dia bener-bener pekerja keras dan selalu ngusahain yang terbaik buat semua hal yang dia lakuin. Gue kagum sama spiritinya dia huhu pingin banget semandiri itu. Dan harus gue akuin, baru pertama kali gue sekagum ini sama attitude orang. Ternyata bener ya, kalo attitude lo bagus dan tetep jadi diri lo, otomatis lo jadi menarik buat orang lain. Kata temen-temen beliau yang udah kenal sejak putih biru juga beliau berubah banget dari pas zaman kuncir bombay sampe sekarang. Dia semakin baik. Salut banget deh pokoknya. Pingin bisa memberi sebanyak itu, bahkan lebih. Tapi memberi sedikit pun masih ogah-ogahan.

Saturday, April 5, 2014

Does best friend exist?



Sampai hari ini, gue masih ngga nangkep tujuan memanggil sebagian dari teman kita dengan sebutan sahabat? Why should we put the B before F in word 'best friend'? Gue masih ngga bisa mengajukan kriteria sahabat yang tepat, yang bagaimana yang bisa gue panggil sebagai sahabat gue saat ini? Apa saja yang dilakukan bareng sahabat? Apa yang membuat sahabat berbeda dengan teman dekat? Apakah sahabat akan bertahan selamanya, atau hanya bertahan ketika berada di kedekatan? Bahkan sampai gue nulis ini, I still can't figure it out. Maafin gue, gue emang bukan tipe orang yang tegas dalam menentukan kriteria, beside I'm not that type yang bisa mengkotak-kotakkan orang ke dalam berbagai kategori, gue terlalu masa bodo dengan pengkotakkan kategori manusia. It's just not fair, bahkan Tuhan ngga membatasi kita untuk bergerak dan berkembang hanya dalam suatu ruang tertentu kan?

Selama ini gue selalu mencoba menerka-nerka mereka, teman yang mana yang pantas gue sebut sahabat? Gue selalu mencoba menebak-nebak mereka, apa mereka memang orang yang tepat untuk gue sebut sebagai sahabat? Terkadang gue sudah menemukan orang-orang yang nyaris pantas gue masukan ke dalam list sahabat gue, tapi entah di awal atau di pertengahan pertemanan kita, ada satu dua hal yang menjadi baha pemikiran gue lagi saat gue nyaris menuliskan nama dia dalam daftar sahabat gue. Ngga cocok. Kasarnya begitu.

Mencari sosok sahabat, bahkan teman dekat itu sangat sulit. Mungkin pas kita duduk di bangku sekolah dasar, semua terasa mudah bahkan untuk menyebut seorang teman menjadi sahabat lo, bener ngga? sampai SMP pun gue masih merasa begitu. Tapi seiring waktu, sampailah gue di seragam putih abu. Katanya, masa-masanya transisi, masanya dimana kita harus bisa menerima segala perubahan dan menyortir mana yang baik dan buruk. Ya, dan gue sangat merasakan itu. Argumen tersebut ternyata valid, hampir semua teman yang guea tanyakan juga memiliki pernyataan serupa. Bingung akan banyak hal, bertanya-tanya pada diri sendiri tentang dunia seolah sudah menjadi makanan sehari-hari bagi para remaja masa transisi seperti kami, khususnya gue.

Karena gue ngga punya kriteria yang jelas tentang seseorang yang pantas disebut sebagai sahabat, akhirnya gue melakukan penerkaan dan penebakkan di atas dalam keadaan remang-remang. Ngga jelas. Gue ngga mengerti, apakah seorang sahabat harus selalu kemana-mana bareng, atau selalu bertukar cerita dengan terbuka, atau yang bisa mendengarkan kita dengan baik, atau yang asyik ketika kita ajak kemanapun, atau malah yang memiliki minat yang sama, atau cukup yang memiliki ciri fisik yang sama? Kenapa tidak ada teori yang menjelaskan secara blak-blakan tentang itu semua?

Gue juga punya satu cerita. Jadi, I used to be this person's closest friend (A), and I decided to tell her about one of my other friend (B). After everything we've been through together, smiles upon tears, failures upon the success and things we've been laughed at, by the time I didn't belong to the same place with them, they slowly became closer, then they finally called each other as best of the best friend ever. Till now, they go anywhere together, they share everything, they talk for hours and more, and slowly I feel like I walk away from them OR they run away from me. I used to be their close friend too, and they said we are best friends none will take any of us away except the death. But why did they go like a stubborns? Or maybe I'm the one who go like a wimp. Kenapa harus gue yang ditinggal? Apa mereka saling merasa nyaman sementara ketika sama gue engga? I don't understand, bagaimana pun human nature itu dinamis dan sangat peka dengan sekitar. Jujur, gue sedih dan bingung banget. Berlebihan? I think no, karena secara naluriah lo akan merasa kehilangan ketika salah satu best part or your life and time perlahan berjalan menjauh begitu aja.

Meskipun kepingan drama kenangan hidup gue sampai sekarang sudah ada berjuta-juta, kalian, teman-teman saya selalu ada disitu. Ada dalam frame foto-foto itu, diam, menjadi gambar mati namun abadi. Yang saya yakini akan menceritakan perjalanan kita balik di hari ini. Jangan khawatir, saya pun tetap menghargai kalian dan menyimpan kepingan-kepingan ini di tempat yang sama dan semoga akan selalu diingat. Kalian tetap menjadi bagian dari masa ke masa, mulai dari masih berekspresi datar ketika di foto, mulai bisa bergaya genit ala anak SD, punya akun sosial, bicara asal disitu, lalu pernah menjadi bagian dari kalangan SKSD, berkarya bebas sampai ada dititik introvert dan sampailah disini, diri gue yang sekarang. Kalian akan menjadi bagian dari kenangan itu, percaya dna pegang kata-kata gue.

Once, I believe that best friend did exist. Tapi sekarang, gue belum bisa percaya kalau hal itu beneran nyata. Belum ada yang bisa bener-bener gue jadikan sebagai rumah, tempat gue selalu pulang selain keluarga tentunya. Belum ada yang pas, cocok sama diri sendiri. Sok banget ngga tuh gue? Iya emang, gue juga tau tulisan gue di atas terlihat songong.

Gue masih mencari, dan menunggu seorang sahabat yang benar-bener sahabat. Gue masih bakal disini, sampai ada seseorang atau banyak orang yang bisa bikin gue percaya lagi kalo best friend does exist. Maafin gue, tapi ya ini persepsi gue dan gue ngga menutup kemungkinan suatu hari persepsi gue tersebut bakal berubah seiring gue berganti kacamata sudut pandang. Tapi gue juga mau berdoa dan berharap, kalau memang sahabat itu ada, tolong cepat datang dan sambut ajakan berjabat tangan saya. Tolong.