Saturday, April 5, 2014

Does best friend exist?



Sampai hari ini, gue masih ngga nangkep tujuan memanggil sebagian dari teman kita dengan sebutan sahabat? Why should we put the B before F in word 'best friend'? Gue masih ngga bisa mengajukan kriteria sahabat yang tepat, yang bagaimana yang bisa gue panggil sebagai sahabat gue saat ini? Apa saja yang dilakukan bareng sahabat? Apa yang membuat sahabat berbeda dengan teman dekat? Apakah sahabat akan bertahan selamanya, atau hanya bertahan ketika berada di kedekatan? Bahkan sampai gue nulis ini, I still can't figure it out. Maafin gue, gue emang bukan tipe orang yang tegas dalam menentukan kriteria, beside I'm not that type yang bisa mengkotak-kotakkan orang ke dalam berbagai kategori, gue terlalu masa bodo dengan pengkotakkan kategori manusia. It's just not fair, bahkan Tuhan ngga membatasi kita untuk bergerak dan berkembang hanya dalam suatu ruang tertentu kan?

Selama ini gue selalu mencoba menerka-nerka mereka, teman yang mana yang pantas gue sebut sahabat? Gue selalu mencoba menebak-nebak mereka, apa mereka memang orang yang tepat untuk gue sebut sebagai sahabat? Terkadang gue sudah menemukan orang-orang yang nyaris pantas gue masukan ke dalam list sahabat gue, tapi entah di awal atau di pertengahan pertemanan kita, ada satu dua hal yang menjadi baha pemikiran gue lagi saat gue nyaris menuliskan nama dia dalam daftar sahabat gue. Ngga cocok. Kasarnya begitu.

Mencari sosok sahabat, bahkan teman dekat itu sangat sulit. Mungkin pas kita duduk di bangku sekolah dasar, semua terasa mudah bahkan untuk menyebut seorang teman menjadi sahabat lo, bener ngga? sampai SMP pun gue masih merasa begitu. Tapi seiring waktu, sampailah gue di seragam putih abu. Katanya, masa-masanya transisi, masanya dimana kita harus bisa menerima segala perubahan dan menyortir mana yang baik dan buruk. Ya, dan gue sangat merasakan itu. Argumen tersebut ternyata valid, hampir semua teman yang guea tanyakan juga memiliki pernyataan serupa. Bingung akan banyak hal, bertanya-tanya pada diri sendiri tentang dunia seolah sudah menjadi makanan sehari-hari bagi para remaja masa transisi seperti kami, khususnya gue.

Karena gue ngga punya kriteria yang jelas tentang seseorang yang pantas disebut sebagai sahabat, akhirnya gue melakukan penerkaan dan penebakkan di atas dalam keadaan remang-remang. Ngga jelas. Gue ngga mengerti, apakah seorang sahabat harus selalu kemana-mana bareng, atau selalu bertukar cerita dengan terbuka, atau yang bisa mendengarkan kita dengan baik, atau yang asyik ketika kita ajak kemanapun, atau malah yang memiliki minat yang sama, atau cukup yang memiliki ciri fisik yang sama? Kenapa tidak ada teori yang menjelaskan secara blak-blakan tentang itu semua?

Gue juga punya satu cerita. Jadi, I used to be this person's closest friend (A), and I decided to tell her about one of my other friend (B). After everything we've been through together, smiles upon tears, failures upon the success and things we've been laughed at, by the time I didn't belong to the same place with them, they slowly became closer, then they finally called each other as best of the best friend ever. Till now, they go anywhere together, they share everything, they talk for hours and more, and slowly I feel like I walk away from them OR they run away from me. I used to be their close friend too, and they said we are best friends none will take any of us away except the death. But why did they go like a stubborns? Or maybe I'm the one who go like a wimp. Kenapa harus gue yang ditinggal? Apa mereka saling merasa nyaman sementara ketika sama gue engga? I don't understand, bagaimana pun human nature itu dinamis dan sangat peka dengan sekitar. Jujur, gue sedih dan bingung banget. Berlebihan? I think no, karena secara naluriah lo akan merasa kehilangan ketika salah satu best part or your life and time perlahan berjalan menjauh begitu aja.

Meskipun kepingan drama kenangan hidup gue sampai sekarang sudah ada berjuta-juta, kalian, teman-teman saya selalu ada disitu. Ada dalam frame foto-foto itu, diam, menjadi gambar mati namun abadi. Yang saya yakini akan menceritakan perjalanan kita balik di hari ini. Jangan khawatir, saya pun tetap menghargai kalian dan menyimpan kepingan-kepingan ini di tempat yang sama dan semoga akan selalu diingat. Kalian tetap menjadi bagian dari masa ke masa, mulai dari masih berekspresi datar ketika di foto, mulai bisa bergaya genit ala anak SD, punya akun sosial, bicara asal disitu, lalu pernah menjadi bagian dari kalangan SKSD, berkarya bebas sampai ada dititik introvert dan sampailah disini, diri gue yang sekarang. Kalian akan menjadi bagian dari kenangan itu, percaya dna pegang kata-kata gue.

Once, I believe that best friend did exist. Tapi sekarang, gue belum bisa percaya kalau hal itu beneran nyata. Belum ada yang bisa bener-bener gue jadikan sebagai rumah, tempat gue selalu pulang selain keluarga tentunya. Belum ada yang pas, cocok sama diri sendiri. Sok banget ngga tuh gue? Iya emang, gue juga tau tulisan gue di atas terlihat songong.

Gue masih mencari, dan menunggu seorang sahabat yang benar-bener sahabat. Gue masih bakal disini, sampai ada seseorang atau banyak orang yang bisa bikin gue percaya lagi kalo best friend does exist. Maafin gue, tapi ya ini persepsi gue dan gue ngga menutup kemungkinan suatu hari persepsi gue tersebut bakal berubah seiring gue berganti kacamata sudut pandang. Tapi gue juga mau berdoa dan berharap, kalau memang sahabat itu ada, tolong cepat datang dan sambut ajakan berjabat tangan saya. Tolong.







Friday, March 21, 2014

*** "Hem sejujurnya setelah hari itu, tiba-tiba semua yang sudah mengalir tiba-tiba kembali mengering. Entah apa namanya, tapi aku merasa sudah saatnya untuk mengganti kiblat inspirasi. Tapi, ada sisiku yang lain yang tetap memaksa untuk bertahan dengan inspirasi yang lampau. Apa yang harus ditahan? Toh, kamu, sang inspirator pun justru memaksa untuk dilepaskan, kan?"
"Aku? Inspirator? Meminta untuk dilepas? Apa yang sedang kamu bica..,"
"salah ya, saya menaruh ego terbesarku di kamu? Ego terbesar dalam mempertahankan sih sebenarnya, dan menuntut untuk turut dipertahankan," seketika kalimatnya menggantung, namun lalu ia pun menyelesaikan ucapannya dalam hati, "tentunya masih dalam diam." 
"Maaf sebelumnya, tapi untuk tahu kamu sedang menaruh ego terbesar kamu di atas saya pun, tidak pernah terlintas sedikit pun di benak saya. Mungkin ego terbesar kamu sebenarnya ada dalam dirimu sendiri, menahan segala sesuatunya untuk diri sendiri lalu tetiba melayangkan tuduhan-tuduhan tanpa alasan konkrit pada orang yang tidak tahu dimana akar permasalahannya? Tapi itu terlalu dangkal untuk dibahas." Ketegasan kalimatnya tergambar dalam air muka Dyma, dan seketika suasana dalam keriuhan pertunjukan malam itu terasa sunyi bagi Reyna. 

Sunday, March 9, 2014

FOR ME, SOCIETY IS NOT MY GOD, MY DEAR FELLAS.

Saturday, March 1, 2014

deserve better

Kenapa sih, terus-terusan ngerasa kekurangan? Ngeluh mulu. Pengen ini-itu tapinya ngebantin mulu, ya kapan dapetnya? Bersyukur susah amat? Nikmatin semuanya sebentar aja, bisa kan pasti? Posisi duduk lo tuh 'terlalu tegak' kalau mau perjalanan jauh, berubah buat lebih baik ngga akan pernah bikin lo rugi lah. Tiap baca atau denger hal-hal dari lo tuh selalu bikin si pendengar pengap duluan, dan akhirnya malah ngga excited dan ogah buat mau ngedenger lagi. Karena menurut gue, lo tuh sebenernya udah nemu dan tau dimana jalan keluar yang mudah, tapi lo selalu berbalik arah dan malah nyari jalan keluar yang lain yang malah menyulitkan diri lo sendiri, lo ngga bisa kaya gini terus. Berani ngambil keputusan, jangan takut. You deserve better banget lah, sayangnya lo terlalu takut buat nyoba hal baru. Terlalu takut buat keluar dari zona nyaman lo, dan lo ngga bisa terus-terusan diem di tempat kaya gitu. Life goes on kan? Manusia juga harus begitu dong, jangan sampe timpang pada intinya sih. Semangat, may the goods are always beside you.
PSSSST!! There's an ask.fm widget on the right sidebar,  so please kindly ask me everything you want to ask, or whatever. Don't ever feel embarrassed or something, just ask. And I'll answer them as soon as possible. Thank you! xx

Friday, February 28, 2014

"we were framed in a picture together, as I turn around and decide to never look back. But this road has no end, and this picture reminds"