Friday, December 20, 2013

Visioner

        Mungkin, memang terlalu sering menganalogikan segala sesuatu. Terlalu sering menjadi seorang yang cukup visioner buat diri sendiri, dan menjadi seorang yang terlalu visioner bagi orang lain. Sebenernya, sama sekali nggak ada masalah, kalau kita emang memilih dan nyaman untuk jadi seorang yang bersifat visioner. Tapi pernah nggak sih kalian merasa, ketika kita sedang bervisioner mengenai sesuatu, orang di sekitar kita malah risih sama perilaku kita yang..., mungkin gini-gini amat? Mungkin dengan menjadi orang yang visioner, terkadang kita terlalu kaku ketika menghadapi hal-hal yang di luar dugaan kita sebeleumnya. Atau, kita malah jadi orang yang tertutup dengan segala kejutan-kejutan dalam hidup.

Saya juga ngga paham. Saya pun bingung.

          Tapi menjadi seorang yang kaku dan tertutup itu bukan pilihan saya. Saya ngga pernah milih buat jadi orang yang begini. Sesuatu seperti itu, terjadi dengan cara ngalir gitu aja. Tanpa bisa dirasain alirannya, yang jelas ketika sifat itu udah mulai tertanam, ya tinggal kita yang bingung sama diri sendiri.
           
           Kalau boleh milih, dan kalau merubah diri itu bisa dalam waktu sejentik-kan jari, saya mau jadi orang yang visioner tanpa perlu menjadi orang yang kaku. Saya mau jadi orang yang terbuka dengan segala kejutan dalam hidup. Saya mau jadi orang yang saya kenal secara mendalam. Saya mau jadi orang yang menyenangkan bagi orang lain. Tapi, untuk merubah satu sifat aja butuh waktu sekitar 21 hari menurut penelitian. Dari situ, kita semua tau, kalau untuk berubah itu nggak pernah mengenal kata 'gampang' dan 'instan'. Semua butuh proses panjang. Sangat panjang.
                        
           Untuk menjadi orang yang menyenangkan bagi orang lain itu, nggak melulu harus jadi orang yang diharapkan sama sekitar kan? Ngga melulu harus jadi orang yang menuhin segalal keinginan temen-temen kan? Ngga melulu harus jadi orang bikin orang lain ketawa-ketiwi kan? Ngga melulu harus ngomongin orang lain di belakang kan? Tapi kenapa, mayoritas individu disini itu, beranggapan kalau orang yang menyenangkan adalah orang selalu begini, atau selalu begitu?  Padahal, ukuran sesorang untuk menyenangkan bagi orang lain itu beda-beda, kan. Ngga mungkin semua orang bisa jadi orang yang sama persis dengan yang lainnya.

Dan masih, saya juga ngga paham. Dan, saya pun bingung.


No comments:

Post a Comment