Tuesday, February 25, 2014

-

"Pernah berpikir buat pergi? Atau mungkin hanya beranjak sejenak buat menghirup udara segar? Pernah berpikir, bahwa di lain tempat, sebenarnya ada sesuatu yang jauh lebih nyaman dari tempat itu yang tersedia buat kamu? Lalu, apa pernah kamu menyadari bahwa sebenarnya kamu itu sudah kalah total dari awal dalam segala hal, dek?" tanya sang mas, kakak dari Dian, seolah-olah seorang polisi yang sedang mengintrogasi tahanan.
"Iya, semuanya pernah terlintas di sini," lalu Dian melanjutkan jawabannya dengan menunjuk ke arah kepalanya, "tapi, yang ini, selalu lebih tegas. Dan aku percaya, kalau yang ini, akan selalu worth the pain. Walaupun terkadang, realitas engga sepemikiran sama aku, tapi aku yakin, kalau memang ini hanya sebatas tempat singgah, engga akan memberi kenyamanan dan jamuan sebaik ini, dan untungnya, hal ini, juga mengamini anggapan saya." Tegasnya mantap.
Tawa hambar pun seakan hanya bumbu yang disuarakan oleh masnya, "lagi lagi perasaan, dek. Tapi kalau mimpi terus, lama-lama juga kamu butuh menapak di realitas, butuh bangun dari tidur. Mas cuma mau ingetin, logika dan perasaan itu harus seimbang digunainnya, jangan sampai berat sebelah. Ingat, kamu itu hidup di dunia bernama realita, bukan di negeri dongeng tempat berkhayal."



 

No comments:

Post a Comment