Friday, March 21, 2014

*** "Hem sejujurnya setelah hari itu, tiba-tiba semua yang sudah mengalir tiba-tiba kembali mengering. Entah apa namanya, tapi aku merasa sudah saatnya untuk mengganti kiblat inspirasi. Tapi, ada sisiku yang lain yang tetap memaksa untuk bertahan dengan inspirasi yang lampau. Apa yang harus ditahan? Toh, kamu, sang inspirator pun justru memaksa untuk dilepaskan, kan?"
"Aku? Inspirator? Meminta untuk dilepas? Apa yang sedang kamu bica..,"
"salah ya, saya menaruh ego terbesarku di kamu? Ego terbesar dalam mempertahankan sih sebenarnya, dan menuntut untuk turut dipertahankan," seketika kalimatnya menggantung, namun lalu ia pun menyelesaikan ucapannya dalam hati, "tentunya masih dalam diam." 
"Maaf sebelumnya, tapi untuk tahu kamu sedang menaruh ego terbesar kamu di atas saya pun, tidak pernah terlintas sedikit pun di benak saya. Mungkin ego terbesar kamu sebenarnya ada dalam dirimu sendiri, menahan segala sesuatunya untuk diri sendiri lalu tetiba melayangkan tuduhan-tuduhan tanpa alasan konkrit pada orang yang tidak tahu dimana akar permasalahannya? Tapi itu terlalu dangkal untuk dibahas." Ketegasan kalimatnya tergambar dalam air muka Dyma, dan seketika suasana dalam keriuhan pertunjukan malam itu terasa sunyi bagi Reyna. 

No comments:

Post a Comment