Saturday, September 20, 2014

Senja

masih menjadi senja terindah
ketika kita melihat pemandangan biasa namun dari sudut pandang yang berbeda
melihat matahari tenggelam di garis khatulistiwa
dari jendela bus yang sedang berjalan
menyusuri,
"menuju salah satu Nirwana Bumi Pertiwi," kata mereka

diam
masih terdiam, enggan bersuara
malu
ia tersipu ketika semua pengelihatan ini menatap
 lalu menyayat

entah bagaimana semuanya di mulai kembali
entah bagaimana, aku pun tak mengerti
 karena seketika, di sini terasa meletup-letup lagi

setelah sempat padam
setelah sempat mati suri

kenapa kamu nyalakan kembali?
apa kemarin memang tidak cukup?
kini apa? 
apa?

masih menjadi pagi yang terindah
ketika dua bola mata menatap dua lainnya
lalu diteduhkan di sana

kemudian terlelap
bersama


Bogor, September 2014.


No comments:

Post a Comment