Friday, December 12, 2014

Janji Juni

Remah-remahku
Tercecar, terpecah belah
Runtuh sudah dinding ini
Tapi bukan salah angin, kan?

Aku merasakannya
Dalam penghormatan mendiang yang terhormat
Jalan tol itu tidak berbohong
Namun jalan umum itupun tidak berkata jujur

Dengan siapa kita bersandar?
Adakah hal sebijak ini akan terjadi di esok hari?
Nyatanya kau masih pulas 
Tertidur di alammu sendiri

Kebahagian nurani insan duniawi
Apa masih perlu meminta izin?
Teropong samudera menenggelamkan mata indahmu
Topi tentara menutup bundar kepala botakmu
Aku suka
Tapi bukan berarti aku tak berdaya

Juni telah menjanjikan kenangan
Separuh lebihnya adalah kau
Juni tidak pernah membual
Tapi keindahannya lebih dari nirwana manapun
Tiap jengkal malamnya terus ku hitung
Semerbak parfum itupun masih melekat di benak

Jangan salahkan Juni
Juni hanya mengerjakan tugas dari Yang Maha Cinta
Jangan abaikan Juni
Ia begitu manis
Maaf harus ku tinggal


No comments:

Post a Comment