Monday, September 7, 2015

Semalam

Semalam,
ketika dinding berbisik
saat dingin berubah hangat
Seorang anak muda
terdengar gelak tawanya;
pecah, melawan kelengangan yang nyaris abadi
Lalu berubah, berjatuhan jadi air mata

Semalam,
ketika berada di bawah gelap
Ia tak lagi ketakutan
Gelap tak lagi mengerikan
Karena hanya gelap,
bukan gulita

Semalam,
sebelum beranjak ke mimpinya
ada jemari yang mengepal,
bersama kepala yang menengadah,
dan bibir yang merapalkan doa;
teruntuk yang sedang mendoakannya pula di bagian bumi sebelah sana

Semalam,
ada tekad yang menguat,
dan ada hati yang menjadi sali.


Depok,
7 September 2015—21:11.



No comments:

Post a Comment